Kebaikan Belum Tentu Benar, “Ini Pesan Ida Pandita Dukuh Celagi Dharma Kirti”

98

Lokadewatanews.com – Semarapura, Yayasan Padukuhan Sri Chandra bhaerawa. Dalam mengwujudkan keharmonisan, agar status rumah bisa dikatakan Griya, Pasraman, Padukuhan maupun Parhyangan, umat hindu diharuskan melakukan ritual yang dikenal dengan Upacara Mesuddha bhumi.

Hal ini nampak jelas saat yayasan Padukuhan Sri Chandra Bherawa pada hari Minggu (11/4/2021) menggelar ritual Bumi Sudha ( Mesuddha bhumi red) yang diikuti Pecaruan Rsi Gana di Pasraman Sri Taman Ksetra, Desa Pikat, Kabupaten Klungkung, Bali. Senin, (12/4).

Kegiatan upacara ini bertujuan untuk membersihkan segala isi alam, termasuk Pelinggih-Pelinggih dari unsur-unsur yang kurang baik, agar menjadi baik termasuk manusia di dalamnya sehingga terjadi keseimbangan ekosistem atau kebaikan yang benar.

Ida Pandita Dukuh Celagi Dharma Kirti yang memuput upacara tersebut sekaligus pembina Yayasan mengungkapkan Mesuddha bhumi merupakan ritual agama hindu dari sesuatu yang biasa menjadi yang luar biasa. Artinya dari statusnya sebagai rumah manjadi rumah yang disucikan seperti Griya, Pasraman, Padukuhan atau Parhyangan.

Menurut Beliau, perbuatan baik perlu diidealkan dengan sastra yang ada, agar menjadi benar. “Jika kebaikan dan kebenaran disinergikan inilah hidup yang ideal,” Ujarnya.

Kabaikan dan kebanaran adalah dua kata yang kelihatannya sama, namun mengandung makna yang berbeda. Karena kebaikan bukanlah kebenaran  begitu pula kebenaran bukanlah kebaikan.

Dijelaskan oleh Sulinggih asal Klungkung namun lahir dan besar di Denpasar, bahwa  orang yang telah melakukan perbuatan baik, belum tentu benar. Sebab kebaikan itu memang bukan kebenaran. Karena
kebenaran itu tidak untuk dilakukan, tetapi untuk dipahami sebagai sesuatu yang benar.

“Kebaikan itu harus dilakukan, sedangkan kebenaran untuk dipahami,” Jelasnya.

“Sama halnya hari ini, di Pasraman Sri Taman Ksetra, ini adalah perbuatan baik yang dilakukan yang dilandasi dengan pengertian benar atau didasari atas sastra yang benar menurut agama hindu,” Sambungnya.

Terakhir beliau mengajak seluruh umat yang hadir, baik dari Bali maupun luar Bali untuk tetap mentaati Prokes meskipun sudah berbuat baik, karena virus tidak memiliki alat pendeteksi orang baik dan orang jahat dan tidak perlu melakukan konfrontasi antara kebaikan dan kebenaran, sebab yang paling ideal adalah, kita harus berbuat baik dengan benar.(TIM).